Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SEKOLAH PENCETAK WIRAUSAHA, MUNGKINKAH !

sakalangkong.com -  Sebuah website bermodal semangat untuk mengumpulkan yang tercecer menjadi sesuatu  yang bermanfaat untuk kemajuan pendidikan Indonesia. sakalangkong.com menyampaikan terimakasih (sakalangkong) kepada guru-guru Indonesia yang tanpa kenal lelah mengabdi untuk negeri. Semoga menjadi amal ibadah yang diterima disisi Allah SWT. Aamin. Sebagai ungkapan rasa syukur sakalangkong.com akan berbagi artikel tentang "Sekolah Pencetak Wirausaha, mungkinkah !.  dibaca sampe habis ya ....semoga bermanfaat.

Pengusaha memiliki peran penting dalam perekomian nasional. Di samping sebagai motor penggerak dunia usaha, pengusaha juga ikut andil membantu pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi tenaga kerja serta menciptakan lapangan kerja baru bagi lulusan SMK atau perguruan tinggi sehingga mengurangi pengangguran. Dengan berkurangnya pengangguran maka kita tidak perlu lagi menekspor tenaga kerja kita keluar negeri. Karena didalam negeri tersedia lapangan kerja.

Namun sayang jumlah pengusaha di Indonesi masih sedikit. Hanya 0.18% dari jumlah penduduk Indonesia yakni sekitar 400 ribuan. Raja proprti Indonesi, Ir. Ciputra, berharap Indonesia memiliki 4,4 juta pengusaha pada tahun 2025 nanti.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 262 juta lebih per juli 2017 semestinya kita mempunyai pengusaha minimal 4,4 juta orang. Kita masih kalah jauh dengan Singapura. Negeri tetangga yang hanya memiliki luas 719,9 km2 lebih kecil dari Pulau Batam dengan jumlah penduduk kurang dari 6 juta jiwa memiliki pengusaha lebh 7% dari total jumlah penduduknya. Sebuah angka yang fantastis dan tak salah kita menyebut Singapura dengan Negara Pedagang. Kita perlu belajar banyak dari Singapura. Kenapa jumlah pengusahanya lebih besar dari Indonesia, padahal kita negeri serumpun.

Menjadi pemilik bisnis yang sukses dambaan setiap orang. Semuanya serba ada. Rumah pribadi, apartemen diberbagai tempat, mobil berjejer digarasi. Semua serba wah!. Kita hanya berharap tanpa aksi. Memang tidak salah menjadi karyawan. Asalkan halal dan tidak melangar hukum. Namun kita perlu mengevaluasi sampai kapan kita menjadi karyawan ? seumur hidup kah? 10 tahun atau 5 tahun.

Memang mental kita, pekerja oriented. Bukan bermental wirausaha. Padahal kita semua paham dan hapal diluar kepala bahwa rezeki 9 pintu dari 10 pintu rezeki dari berdagang atau menjadi pengusaha. Mental buruh atau menjadi karyawan mendarah daging dalam diri kita. Sulit kita lepas dari budaya pekerja ini. Mental ini terbentuk dari zaman penjajahan. Kita disuruh kerja. kerja. Kerja. Bukan dididik untuk bebas dari keterbelakangan. Bukan dibina menjadi orang hebat dan sukses namun selalu diinjak untuk menjadi selalu orang bawahan. Orang pinggiran. Orang yang selalu menerima gaji bukan yang memberi gaji. Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.

Disamping itu juga keadaan lingkungan, kultur dan budaya yang menjadikan profesi karyawan adalah pekerjaan paling aman. Aman disini aman dari tidak memiliki uang bulanan bukan aman dari ketergantungan menerima gaji bulanan. Bahkan persepsi menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah satu-satunya pekerjaan paling aman. Dapet pensiunan, jarang masuk gaji utuh dan lain-lain. Bahkan rela menyogok atau memberi suap agar diterima menjadi PNS. Apalagi politik lokal bermain, menjadi PNS dijual bahkan diobral dengan tarif tertentu. Siapa punya uang, bisa dipastikan diterima menjadi PNS. Itu dulu, jaman now mungkin transaksinya berbeda dengan modus sama.

Tak kalah pentingnya adalah sistem pendidikan nasional kita masih berorientasi pada nilai atau angka. Kelulusan banyak ditentukan oleh nilai. Nilai segalanya. Padahal bukan jaminan untuk hidup sukses dan bahagia. Pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi tidak berorientasi pada jiwa kewirausahaan. Nilai identik modal melamar pekerjaan. Jadi dunia akademis hanya mencetak pekerja atau kuli bukan pengusaha.

Pernah dibahas di tema sebelumnya bah
wa menjadi pekerja kebebasannya terbatas. Terbatas dari sisi finansial dan kemudahan hidup. Semua serba di atur. Gaji kita diatur, libur kita diatur, jam kerja diatur. Semua serba di atur. Setinggi jabatan seseorang pasti dia bawahan juga. Misalkan kita bilang Enak punya jabatan manager. Manager diatur oleh direktur. Terus kalo gitu enak jadi direktur dong! Direktur juga masih diatur oleh pemegang saham atau investor. Berarti enak jadi investor, ya enak karena mereka semua pengusaha.

Kalau dibandingkan dari sisi finansial, pertanyaannya adalah lebih banyak mana uang pekerja atau pengusaha. Pasti jawabannya uangnya pengusaha. Karena mereka karyawan yang menghasilkan uang untuk mereka. Berapun uang atau keuntungan perusahaan menjadi milik pengusaha atau pemilik perusahaan. Ternyata kita menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran agar mereka tambah kaya raya. Sedangkan kita, karyawan hanya bekerja dengan gaji yang mereka tentukan. Kadang tidak sebanding dengan apa yang kita lakukan kepada perusahaan tempat kita bekerja.

Mereka liburan ke luar negeri, bersantai bersama dengan keluarganya kita sibuk bekerja menghasilkan uang untuk meraka. Hidup kita kadang terpenjara dengan menjadi karyawan. Yuk ubah mindset kita untuk migrasi menjadi pengusaha, karena menjadi pengusaha tidak harus bermodal besar. Harus punya kantor megah atau memiliki karyawan ribuan. Menjadi pengusaha bisa dengan modal awal kejujuran saja. Kantor atau toko tidak harus bentuk fisik contoh tokopedia, bukalapak dan lain-lain serta karyawan tidak mesti ribuan, bisa kita seorang.

Terus bagaimana merubah Indonesia yang terkenal dengan TKW dan TKI nya. Pengganggurannya ? PHK di mana-mana ! dan pertumbuhan ekonomi yang lambat ! Cara tercepat dengan memperbanyak pengusaha bukan pekerja. Dengan banyak pengusaha perekonomian akan bangkit karena kegiatan bisnis tumbuh. Transaksi keuangan juga tumbuh, daya beli masyarakat meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.
Perkembangan teknologi menjadikan kita lebih mudah menjadi pengusaha. Buka toko online contohnya. Siapa sekarang yang tidak punya HP, pasti punya kan!. Hanya bermodal e-mail, nomor handphone dan koneksi internet kita bisa menjadi pengusaha. Hanya hitungan menit. Percaya dech karena saya membuktikannya.

Buka aplikasi toko online. Pilih yang punya reputasi bagus dan bertabur bintang testimoni dari pengguna dan pelanggannya. Buat akun dan toko dengan prosedur aplikasi tersebut. Hanya hitungan menit kita sudah menjadi pengusaha. Tak perlu menunggu adanya toko atau kantor fisik atau modal besar. Tak perlu juga punya gudang besar. Kita bisa jualan. Toko yang bisa digunakan untuk kegiatan bisnis kita. Bisa jualan apasaja, tanpa harus terikat waktu, kapan dan dimana saja bisa berbisnis.

Kapan lagi mau menjadi pengusaha kalau bukan sekarang. Jangan tunda lagi. Mari kita menjadi bagian dari pengusaha untuk menciptakan peluang kerja baru, mengurangi pengangguran dan meningkatkan taraf hidup yang layak dengan menjadi pengusaha. Banyak pengusaha otomatis banyak juga pekerjanya. Itu hukum alam.

1 komentar untuk "SEKOLAH PENCETAK WIRAUSAHA, MUNGKINKAH !"

  1. wirausaha atau entrepreneurship klo bisa masuk ke kurikulum pak, biar terintegrasi dengan semangat belajar siswa terutam dibtingkatan sma/smk sehingga ketika keluar bagi yg tidak melanjutkan bisa membuka usaha mandiri

    BalasHapus