Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CARA JITU MENGUBAH ORANG LAIN

đź“šMENGUBAH ORANG LAIN

Banyak orang ingin bisa mempengaruhi orang lain, terutama seorang istri ingin bisa mempengaruhi suaminya. Atau suami ingin bisa mempengaruhi istrinya. Pun kedua orang tua ingin bisa mempengaruhi anak-anaknya.

Ada yang salah dengan keinginan itu?

Tidak ada, wajar.

Bahkan dalam kepemimpinan, seorang pemimpin berusaha mempengaruhi bawahannya.

Tapi...

Ada pemahaman yang hilang dalam teori mempengaruhi ini, yaitu secara kodrat sebenarnya kita sudah mempengaruhi orang lain sehingga mereka bereaksi dengan cara tertentu.

Teori yang hilang itu adalah, seseorang pemimpin  memprotes sikap bawahannya padahal sikap mereka adalah respon dari sikap pemimpinnya sendiri.

Contoh, seorang pemimpin mematikan AC di sebuah ruangan tertutup dimana banyak bawahannya disana, maka bawahannya mencari kipas angin bahkan beberapa mulai keluar ruangan.

Lantas si pemimpin berusaha mempengaruhi sikap bawahannya agar tetap di ruangan, tapi tak berhasil. Lantas dia pun jadi emosi.

Contoh lain, seorang ibu selalu memarahi anaknya karena dianggap lelet dan melakukan kesalahan sejak anak itu masih kecil.

Beranjak dewasa, anak jadi tidak berani inisiatif karena takut salah, takut dimarahi. Lalu si ibu menyekolahkan anaknya di sekolah bonafit agar anak semakin berkembang dan berprestasi.

Tapi tetap saja, anak sering ragu melakukan sesuatu, lebih banyak menyendiri tanpa banyak kreasi yang dilakukan.

Ibu kecewa, dia semakin menuntut anaknya berubah. Semakin mendidik dengan "disiplin" dan tegas. Anak semakin ketakutan, akhirnya mengajukan masuk pesantren. Bukan karena ingin Menghafal Quran, tapi ingin jauh dari ibunya.

Dalam kasus pasangan suami istri, seringkali sikap seorang suami adalah respon dia terhadap perilaku istrinya. Tak sadar.

Ketika istri memberikan stimulus tertentu, ada reaksi "mencari kipas angin" dari suami, bahkan sebagian keluar menjauh dari istri.

Suami tidak berpenghasilan, tidak mau bekerja, ada yang karena merasa harus punya uang besar, punya tanggung jawab besar. Sehingga menolak mengerjakan usaha atau pekerjaan receh.

Akhirnya menunggu kesempatan "ikan besar" datang dan mengabaikan "ikan kecil" lewat. Padahal ikan besar dipancing dengan ikan kecil. 

Kenapa suami merasa harus punya uang besar? Sebab (tak sadar) dari tuntutan istrinya melalui cara bicara dan sikap selama ini. Membuat suami minder bila mengerjakan hal receh dan mencari pembenaran serta pemakluman saat tidak bekerja.

Termasuk istri yang sering memarahi anaknya sehingga suami merasa "kok istriku galak ya?" karena tekanan (tak sadar) dari suaminya. 

Istri punya beban yang tidak dibagi dengan suami. Menghadapi anak serta masalah rumah tangga tidak ada kursusnya, tidak ada magangnya dan banyak istri yang kaget dengan kondisi asing ini, berharap belahan jiwa bisa menghadapi bersama tapi, "itu urusan kamu, suami itu cari duit." 

Maka beban itu ditanggung sendiri. Anak diasuh dalam penuh tekanan, sering jadi bulan-bulanan emosi. Lalu suami, mengadu "istriku mudah marah, aku gak suka!"

Bayangkan seandainya suami menemani istri dalam menghadapi masalah rumah tangga, mengajari dan menemani agar bisa membagi waktu. 

Mengambil peran mengasuh anak agar istri bisa memikirkan dan mengurus dirinya sendiri. Tentu saja istri akan berubah tanpa dituntut, lebih tenang, lebih ramah, serta lebih cantik pastinya. 

Jadi kekonyolan besar manakala suami tak mau berubah, lalu menyalahkan istri yang tak kunjung sesuai harapan dan memilih... Mencari yang baru. 

Sebab pola itu selalu berulang. 

Pun akan berubah manakala istri menguatkan suami yang belum bekerja untuk fokus belajar hal baru selama setahun. Lalu sepakat untuk menahan diri untuk hidup sederhana selama itu. 

Tak ada tuntutan dari istri setelah komitmen itu, yang ada motivasi luar biasa, penghargaan yang sangat berharga dari istri untuk suaminya setiap ada wawasan dan ilmu baru. 

Tentu suami pun berubah, semakin semangat belajar dan menghasilkan. Bisa-bisa tak perlu menunggu setahun, 3 bulan pun sudah menghasilkan memenuhi kebutuhan keluarga.
Pun akan nyaman bagi anak manakala setiap kesalahan dikoreksi dengan lemah lembut dan membangun, bukan merendahkan. Fitrah anak dengan rasa ingin tahu yang besar menjadi alasannya belajar banyak hal. 

Belajar adalah melakukan atau menghadapi hal baru, wajar bila melalukan kesalahan. Tapi anak tahu, setiap kesalahan adalah lompatan untuk semakin memahami. Ibunya pun mendukung itu. 

Tak perlu sekolah bonafit agar anak berprestasi, sebab rumah sudah berperan sebagai sekolah itu. Anak tumbuh kreatif dan mandiri. 

Akhirnya, jangan menuntut plastik tetap baik manakala didekatkan kepada lilin yang menyala. Jangan membencinya ketika ia mengkerut atau terbakar. Cukup padamkan api, padamkan sisi buruk dari diri sendiri, maka orang terdekat berubah menjadi baik sesuai fitrahnya. 

Wallahu'alam

Ahmad Sofyan Hadi
Founder BehinDsign & Kelas Afirmasi Online 
Penulis Buku Best Seller Reset Hati Instal Pikiran 

===========================

Dapatkan Paket Belajar Gratis Kelas Afirmasi Online:
đź“‚Kuliah zoom "Membongkar Rahasia Diri Melalui Goresan Tanda Tangan" setiap pekan di hari Ahad.
đź“‚Ebook "Menemukan Mental Block Melalui Analisis Tanda Tangan"
đź“‚Audio Materi Kelas Afirmasi
đź“‚Artikel Inspirasi dari Kelas Afirmasi

Pendaftaran silahkan klik

🏡KELAS AFIRMASI ONLINE
Dengan visi besar "Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga"

Posting Komentar untuk "CARA JITU MENGUBAH ORANG LAIN"