Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Doktrin itu Sugesti

Sudah beberapa hari saya mengetik di handphone, tiba-tiba layar blank dan tulisan hilang juga. Biasanya saat membalas chat, sudah mengetik beberapa kalimat lalu hilang.

Layar hanya putih saja, alias keluar dari aplikasi chat itu. Konon katanya bisa karena memori penuh atau beban hapenya berat.

Maka sudah beberapa hari pula saya tidak tuntas membalas chat, sebab setelah hilang itu lupa juga tadi balas chat siapa, saking banyaknya.

Tapi alhamdulillah, mulai pagi ini insya allah hape tidak blank lagi, sebab sudah ganti dengan yang baru. Lalu buat member yang merasa pernah chat, insya Allah mulai dibalas satu per satu.

Lalu pagi ini pula, saya kembali bersemangat menulis materi untuk channel kita tercinta: Kelas Afirmasi Online. 

Beberapa waktu lalu kita mendengar atau membaca kabar kasus rudapaksa pimpinan pesantren kepada santriwarinya. Kasus ini sudah berlangsung lama bahkan ada korban yang melahirkan sampai 2 kali.

Dari info yang beredar, para santriwati didoktrin untuk menerima dan menjalani nikah mut'ah bahkan dianggap sebagai amalan terbaik mereka kepada gurunya.

Saya tidak ingin membahas nikah mut'ah ini yang dalam Islam diharamkan, tapi bagaimama sebuah doktrin (baca: sugesti) bisa membuat seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Sugesti ini datang dari figur otoritas (pemimpin pondok pesantren) lalu dikemas dalam bahasa "ajaran agama". Semakin membentuk kepatuhan dari audiensnya.

Pertanyaannya bukan kok bisa? 

Tapi bagaimana bila kekuatan sugesti itu digunakan untuk mempengaruhi perilaku anak-anak remaja agar hidup harmonis, produktif, dan bahagia?

Yap benar, kita butuh figur otoritas dalam hal ini orang tua. Syarat figur otoritas adalah dianggap ahli oleh audiens dan hadir membantu audiens.

Pertanyaanya, apakah orang tua sekarang dianggap ahli oleh anaknya? Rasanya ini jadi evaluasi sebab membantu mengerjakan PR anak saja, ortu sering tidak mampu. Makanya ortu memilih mencarikan guru les/privat.

Dengan kata lain, syarat ahli bagi sebagian orang tua, gugur.

Kedua, apakah ortu hadir menyelesaikan masalah anaknya? Nah ini ada yang hadir, ada yang mewakilkan ke orang lain.

Orang tua yang sibuk bekerja, tak sempat membersamai, tak sempat bertanya dari hati ke hati, saat anak ngambek pagi hari tidak mau sekolah.

Pilihannya adalah memaksa atau meninggalkan anak, pilihan yang sama-sama semakin menjauhkan ortu dari anak. Beda kalau orang tuanya ada di rumah dan ada perhatian ke anak. Anak diajak duduk, lalu dipancing cerita apa alasan tidak mau sekolah.

Sebutlah, Anda yang membaca tulisan ini, semuanya memiliki syarat diatas: dianggap ahli oleh anak dan selalu hadir membersamai anak.

Maka sugestikan hal-hal baik ke anak seperti: 

Kamu anak berharga buat Mama/Papa.

Orang yang paling bisa dipercaya adalah Mama/Papa.

Mama/Papa mencintai kamu sejak kamu belum ada: dirindukan, dinantikan, lalu disambut kelahirannya, dan dijaga sekuat tenaga.

Nah coba bayangkan bila sugesti diatas berulang kali disampaikan dalam beberapa kesempatan, tentu membentuk anak yang berakhlak kepada orang tua bukan?

Misal saat menjemput anak ditengah hujan deras, menyambut anak dengan pertanyaan, "Kakak tahu gak kenapa Mama/Papa jemput kakak walau hujan deras?"

Anggaplah dia menggeleng.

"Sebab kakak sangat berharga buat Mama/Papa."

Lalu biarkan air hujan menghanyutkan sugesti itu ke relung hatinya.

Beda bila anak tumbuh ditemani game, tiktok, dan chat mesum dengan teman-temannya, doktrin yang masuk bisa lebih buruk dari dipaksa nikah mut'ah: durhaka kepada orang tua! Lebih buruk lagi: Durhaka kepada Sang Pencipta!

Jadi kesempatan mensugesti anak remaja itu ada, hanya butuh menjadi ahli bagi anak dan membersamai pertumbuhannya. 

Sayang bila orang tua membiarkan anak didoktrin oleh hal lain, bukan masalah buruknya doktrin itu, tapi Allah akan bertanya kenapa membiarkan anak menerima doktrin yang buruk?

Wallahu'alam.

Ahmad Sofyan Hadi

Penulis Buku Reset Hati Instal Pikiran

*Dapatkan Paket Belajar Gratis Kelas Afirmasi Online:*

📂Kuliah zoom "Membongkar Rahasia Diri Melalui Goresan Tanda Tangan" setiap pekan di hari Ahad.

📂Ebook "Menemukan Mental Block Melalui Analisis Tanda Tangan"

📂Audio Materi Kelas Afirmasi

📂Artikel Inspirasi dari Kelas Afirmasi


Pendaftaran silahkan klik

http://guruahmadfauzi.behindsign.com

*🏡KELAS AFIRMASI ONLINE*

Dengan visi besar "Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga"


Posting Komentar untuk "Doktrin itu Sugesti"