Isro' Mi'roj di Masjid Nurul Huda Omben : Malam Ketika Langit Terasa Lebih Rendah dari Atap Masjid

sakalangkong.com - Selalu Menginspirasi Indonesia. Ada malam yang tidak sekadar gelap dan lampu masjid. Ada malam yang membuat langit serasa lebih dekat, doa lebih ringan, dan sandal jamaah lebih rapi di serambi. Malam itu hadir di Masjid Nurul Huda, Omben, Sampang, saat warga memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Acara dimulai dengan tradisi yang terasa akrab di telinga umat: pembacaan ummul kitab, Surah Yasin, dan Sarofal Anam. Bacaan itu mengalir tenang, seperti pemanasan sebelum hati diajak naik—bukan ke mimbar, tapi ke langit. Jamaah duduk rapat, sebagian memejamkan mata, sebagian lagi menunduk khusyuk. Masjid terasa penuh, bukan hanya oleh orang, tetapi oleh suasana.

Peringatan Isra Mi’raj memang selalu punya cara sendiri untuk membuat kita berhenti sejenak. Di tengah riuh notifikasi gawai, malam itu justru mengajak jamaah mematikan dunia sebentar, lalu menyalakan makna. Perjalanan agung Nabi—dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit—tidak dihadirkan sebagai cerita jauh di awang-awang, melainkan sebagai cermin keseharian.

Ceramah inti disampaikan oleh KH. Abd. Bashid  Dhar Qutnie.  Dengan bahasa yang sederhana namun mengena, beliau mengajak jamaah memahami inti Isra Mi’raj: turunnya perintah salat lima waktu. Bukan lima kali olahraga, bukan lima kali mengeluh, tetapi lima kali menghadap. “Kalau Allah saja ‘memanggil’ langsung Nabi-Nya untuk urusan salat,” kira-kira begitu pesannya, “masa kita masih menawar-nawar waktunya?”

Tema salat lima waktu disampaikan bukan sebagai beban, melainkan hadiah. Salat digambarkan sebagai jeda istimewa di tengah hidup yang sering terburu-buru. Lima kali sehari, manusia diberi kesempatan untuk berhenti, meluruskan niat, dan mengingat arah pulang. Bukan sekadar gerakan, tapi perjanjian. Bukan rutinitas, tapi relasi.

Masjid Nurul Huda malam itu menjadi saksi bagaimana Isra Mi’raj tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah. Ia hidup dalam doa, nasihat, dan tekad kecil jamaah untuk pulang membawa perubahan. Mungkin tidak langsung khusyuk lima waktu tanpa bolong. Tapi setidaknya, ada niat yang diperbarui.

Di Omben, Sampang, peringatan Isra Mi’raj bukan hanya mengenang Nabi yang naik ke langit. Ia juga tentang kita—yang diminta turun ke bumi dengan salat yang lebih tertib, hati yang lebih bersih, dan hidup yang lebih lurus.

Posting Komentar untuk "Isro' Mi'roj di Masjid Nurul Huda Omben : Malam Ketika Langit Terasa Lebih Rendah dari Atap Masjid"

Skillpedia