Sakalangkong - Selalu Menginspirasi Indonesia. Madura siang itu terasa lebih panas dari biasanya. Matahari seperti menggantung tepat di atas kepala. Jalanan mulai ramai oleh kendaraan yang hilir mudik membawa orang-orang dengan urusannya masing-masing. Saya sebenarnya hanya ingin singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
Tetapi aroma bakaran dari Rumah Makan Asela membuat rencana berubah.
Jam belum benar-benar menunjukkan waktu makan siang ketika halaman rumah makan itu mulai dipenuhi kendaraan. Beberapa pengunjung tampak baru datang bersama keluarga. Sebagian lain duduk santai sambil menunggu pesanan. Dari arah dapur terbuka, asap tipis membubung pelan. Wanginya menyebar sampai ke area parkir.
Perut yang tadinya biasa saja tiba-tiba ikut lapar.
Saya memilih duduk di dekat kipas angin besar yang berputar malas. Di meja sebelah, seorang bapak sedang menikmati gurame bakar dengan sambal yang tampak merah menyala. Di sudut lain, beberapa orang tampak sibuk memisahkan daging ayam panggang dari tulangnya sambil sesekali mengangguk puas.
Saya tidak butuh waktu lama untuk menentukan pilihan.
Ayam panggang dan gurame bakar.
Dua menu itu datang hampir bersamaan. Dan seketika meja kecil di depan saya berubah menjadi pusat perhatian indera. Aroma manis, gurih, dan asap arang bercampur menjadi satu.
Ayam panggangnya tampak sederhana. Tidak dihias berlebihan. Tetapi justru di situlah letak bahayanya.
Kulit ayam berwarna cokelat mengilat dengan bekas bakaran yang menggoda. Ketika potongan pertama masuk ke mulut, rasa gurihnya langsung terasa penuh. Bumbunya meresap sampai ke bagian dalam daging. Ada rasa manis yang pas, sedikit smoky dari arang, dan rempah-rempah yang terasa matang sempurna.
Saya sempat berhenti makan hanya untuk menikmati aromanya.
Lalu datang sambalnya.
Pedasnya pelan, tetapi menggigit cukup lama. Membuat nasi hangat di piring cepat sekali habis tanpa terasa.
Namun bintang sesungguhnya siang itu mungkin adalah gurame bakarnya.
Ikannya besar. Dagingnya tebal. Bagian luarnya sedikit garing, tetapi dalamnya tetap lembut dan juicy. Bumbu bakarnya menempel sempurna di setiap sisi. Gurihnya terasa jujur. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Saya mulai mengerti mengapa banyak orang rela memutar arah hanya untuk makan di sini.
Di luar, matahari Madura masih menyala terik. Tetapi di dalam Rumah Makan Asela, waktu seperti berjalan lebih lambat. Orang-orang makan tanpa tergesa. Obrolan mengalir santai. Piring demi piring terus datang dari dapur.
Dan saya sadar, kadang perjalanan paling berkesan bukan tentang seberapa jauh kita pergi.
Tetapi tentang aroma ayam panggang dan gurame bakar yang membuat kita ingin singgah lebih lama sebelum melanjutkan hidup.

Posting Komentar untuk "Menjelang Makan Siang, Aroma Itu Menahan Saya di Rumah Makan Asela"