Sejak muda kita diajari banting tulang. Berangkat pagi, pulang malam. Memeras keringat, mengejar karier, mengumpulkan aset. Tanah dibeli. Deposito ditumpuk. Saham dikoleksi.
Tujuannya satu: agar masa pensiun tenang. Ongkang-ongkang kaki. Menikmati hidup.
Tapi, mari kita lihat kenyataannya. Apakah benar aset yang menumpuk itu otomatis membawa ketenangan di hari senja?
Belum tentu.
Saya sering melihat ironi. Uangnya memang triliunan. Depositonya tak berseri. Tapi, untuk makan nasi padang saja dilarang keras. Sate kambing hanya jadi bahan tontonan.
Tidur di atas kasur impor seharga ratusan juta, tapi mata tak mau terpejam. Harus minum obat penenang.
Mau jalan-jalan ke Eropa, uangnya sangat cukup. Tapi lutut tidak kuat diajak melangkah. Jantung sudah dipasang ring. Ginjal minta dicuci seminggu dua kali.
Akhirnya, kekayaan itu hanya berpindah rute. Dari rekening pribadi ke rekening rumah sakit. Dari tabungan seumur hidup, menjadi omzet perusahaan farmasi.
Apakah itu yang namanya kaya?
Bagi saya, definisi kaya di hari tua harus direvisi total. Bukan lagi sekadar deretan angka nol di buku tabungan. Angka itu penting, tentu saja. Miskin di hari tua itu penderitaan yang harus dihindari.
Tapi, angka saja ternyata berwujud semu.
Kaya di hari tua, menurut opini saya, bersandar pada tiga pilar utama. Sederhana, tapi mencapainya butuh kerja keras sejak muda.
Pertama, Kaya Otot dan Sendi. Ini kekayaan tertinggi. Bisa bangun tidur tanpa rasa ngilu di punggung. Bisa jongkok tanpa diiringi bunyi tulang berderak. Bisa menggendong cucu dengan tegak.
Kesehatan adalah mata uang termahal di hari tua. Sayangnya, banyak orang baru menyadari nilai mata uang ini ketika saldonya sudah menipis. Mereka menukar kesehatan dengan uang di masa muda, lalu berusaha membeli kembali kesehatan dengan uang di masa tua. Sebuah transaksi yang selalu berakhir rugi.
Kedua, Kaya Kemerdekaan. Maksud saya: mandiri. Tidak bergantung pada anak. Tidak menjadi beban.
Ini penyakit masyarakat kita. Anak sering dianggap sebagai investasi masa depan. Ujung-ujungnya, lahir sandwich generation. Generasi yang napasnya sesak. Di atas harus membiayai hidup orang tuanya, di bawah harus membesarkan anak-anaknya sendiri.
Orang tua yang benar-benar kaya adalah mereka yang memutus rantai itu. Mereka menyiapkan dana pensiunnya sendiri. Punya asuransi sendiri. Kalau mau jalan-jalan, pakai uang sendiri. Anak cukup dimintai doa dan waktu untuk berkumpul. Bukan dimintai jatah bulanan.
Ketiga, Kaya Teman Tulus. Bukan teman relasi bisnis. Bukan bawahan yang menunduk karena kita punya jabatan.
Saat pensiun tiba, kursi jabatan ditarik. Di situlah seleksi alam terjadi. Telepon yang dulu berdering puluhan kali sehari, tiba-tiba sepi. Mirip kuburan. Orang yang dulunya hormat, tiba-tiba pura-pura tidak melihat saat berpapasan.
Kaya di hari tua berarti punya teman ngopi yang tulus. Teman yang bisa diajak tertawa lepas membahas masa lalu yang konyol. Teman yang tidak peduli apakah kita naik Mercy atau naik ojek online.
Itulah kekayaan sejati.
Uang memang harus dicari. Kemerdekaan finansial mutlak disiapkan. Tapi jangan sampai kita lupa menabung otot, menabung kesehatan, dan menabung kebaikan.
Sebab, puncak kenikmatan orang tua yang kaya adalah saat ia bisa menyeruput kopi hangat di teras rumahnya, menghirup udara pagi dalam-dalam, dan berkata dalam hati: "Hari ini saya bebas, tidak ada yang sakit, dan tidak menyusahkan siapa-siapa."
Sudahkah kita menabung untuk kekayaan jenis itu?

Posting Komentar untuk "Kaya di saat Senja"