Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menerima Diri Sendiri

Sakalangkong.com - Afirmasi.
Menerima diri sendiri jauh lebih menantang dibandingkan menerima orang lain. Sebabnya adalah kita sejak kecil diajarkan untuk "sopan" di depan orang lain.

Tidak ada yang salah dengan sopannya sebab ia adab. Tapi dengan melebarkan tuntutan agar "baik di depan orang" menjadi masalah baru.

Dampaknya, berpakaian pun mesti menyesuaikan "apa kata orang" sebab menjadi gunjingan orang karena masalah pakaian, jadi masalah baru.

Itu hanya contoh saja.

Contoh lain yang lebih berdampak masalah adalah saat kita ingin terlihat sama dengan orang lain padahal secara fisik berbeda.

Contohnya saya sendiri, kalau ada orang yang berbicara dari arah kiri, saya kurang mendengar. Sebabnya adalah kerusakan gendang telinga kiri karena jatuh sewaktu balita dulu.

Kenyataan itu membuat saya malu dan berusaha menutupi bahwa saya "baik-baik saja" tidak ada kekurangan apa pun. Saya berusaha mendengar setiap pembicaraan orang lain.

Faktanya sering saya tidak mendengar atau setidaknya tidak jelas terdengar, ini tentu jadi masalah baru. Sewaktu sekolah teman saya sampai menyebut "budek!"

Tapi tetap saja saya menolak "klaim" itu bahwa saya baik-baik saja. Tidak mau mengakui kenyataan sendiri. Atau bagi kebanyakan remaja, berjerawat itu memalukan.

Itu sebabnya banyak diantara kita yang tak mau menerima diri sendiri, berusaha menutupi kekurangan diri sendiri dan terlihat "baik-baik saja" di depan orang.

Sebenarnya itu menambah kekurangan diri, menambah masalah bagi diri sendiri. Sebab tak sadar mempersepsikan diri sendiri tak sempurna, tak layak, bahkan tak berharga.

Jadi ketika saya bersedia menerima diri sendiri diawali dengan pengakuan bahwa telinga sebelah kiri tidak mendengar kepada teman kerja, saya menerima resiko apa pun yang dialami.

Jadi bahan cemoohan saya terima, atau merasa dicemooh pun saya terima. Inilah saya, inilah kenyataan saya. Saya tak memilih menjadi seperti ini, tapi tak menolak takdir yang saya alami.


Maka proses menerima diri ini lebih panjang daripada proses menerima orang lain. Saya cepat beradaptasi dengan kekurangan orang tapi ternyata butuh waktu lama untuk menerima kekurangan diri sendiri.

Parameter sudah menerima adalah tetap bahagia, tetap merasa layak dan diterima, tetap merasa berharga sebagai diri sendiri apa adanya. Maka, saya memilih menjadi diri sendiri.

Akibat memilih menjadi diri sendiri, saya pernah memilih makan dengan tangan di restoran hotel, sampai seorang teman berkata "baru kali ini saya melihat orang makan dengan tangan di hotel."

Saat itu saya makan ayam goreng.

Menjadi orang lain, mengikuti apa kata orang, berusaha diterima dan menyenangkan orang, tak sadar menjadi beban sendiri.

Maka saat melepas itu, lepas juga sebagian besar beban kita. Tapi, tetap saja ada adab, ada sopan santun. Artinya menjadi diri sendiri dengan menjunjung adab kepada orang lain.

Ini jalan tengah untuk tidak menjadi egois dan antisosial tapi tetap bahagia.

Wallahu'alam.
Ahmad Sofyan Hadi
Penulis buku Reset Hati Instal Pikiran.

Download Free Ebook "Temukan Mentalblock melalui Analisa Tanda Tangan ''

http://guruahmadfauzi.behindsign.com


­čĆíKELAS AFIRMASI ONLINE
Dengan visi besar "Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga"

Posting Komentar untuk "Menerima Diri Sendiri"