Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SAMPAI KAPAN HARUS PERCAYA?

Sampai Kapan Percaya?

Dulu saya percaya bahwa saya sakit mag, bahwa kalau makan telat perut menjadi sakit.

Memang itu yang saya alami kemudian, selalu melilit yang kata orang mag kambuh manakala telat makan alias menahan lapar.

Tapi...

Saat puasa Ramadhan dimana saya pun menahan lapar, mag tidak kambuh, sakit melilit tidak terjadi sama sekali.

Walau setelah Ramadhan lewat, mag saya kambuh lagi, sering melilit lagi ketika telat makan. 

Buat saya ini aneh sekaligus bikin penasaran, kok bisa? 

Setelah baca buku pengembangan diri, belajar tentang sugesti, lalu mendalami analisa tanda tangan, saya jadi paham bahwa kita menjadi apa yang kita percayai.

Maka saya mulai membayangkan lambung saya sehat, secara visual saat itu seperti sebuah kantung yang bercahaya.

Tanpa diduga, saya bertemu dengan produk yang ketika dikonsumsi rutin menyembuhkan mag saya, sadarnya ketika telat makan dan makan pedas, mag tidak kambuh.

Semakin kesini semakin belajar tentang jenis makanan dan ternyata ada bahan makanan yang sulit dicerna seperti mie, tepung, dan ikan asin.

Padahal sekian lama saya menyukai makanan itu.

Maka mulailah disiplin dengan menu makanan, ternyata semakin jarang masuk angin, jarang sendawa, dan jarang buang angin.

Ini pertanda bagus.

Pun ketika Fawwaz anak saya usia 8 tahun saat itu divonis sakit TBC dan wajib minum obat rutin, saya memilih tidak percaya kemudian.

Maksudnya saya percaya saat dokter mengatakannya, tapi beberapa menit kemudian saya percaya bahwa tubuh bisa diperintah untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Faktanya obat dokter tidak diminum sama sekali, tidak jadi opname, tapi sembuh. Walau tidak sembuh tiba-tiba, tapi saya terfikir memberinya herbal yang membuat kesehatannya berangsur pulih.

Tapi...

Tidak berarti saya menolak klaim bahwa saya sakit mag atau anak saya TBC. Hanya saja itu kenyataan SAAT ITU, detik itu.

Detik berikutnya, saat berikutnya dimana waktu terus berjalan, saya percaya (kondisi) tubuh bisa berubah.

Sekali lagi, PERCAYA.

Pun ketika saya merasa menjadi orang paling menderita sedunia, merasa paling tidak berharga, saya pun percaya bahwa kondisi ini akan berubah.

Saya percaya suatu hari saya jadi orang kaya, jadi orang yang berharga, menjadi orang yang berpengaruh.

Walau, tidak serta merta berubah dalam waktu singkat, tapi waktu yang panjang meninggalkan kondisi terpuruk menuju kondisi berdaya.

Kesimpulan saya, separah apa pun penyakit seseorang, selama dia masih bisa makan, maka ada potensi untuk sembuh.

Pun seterpuruk apa pun kondisi seseorang, selama dia punya harapan, maka ada potensi berdaya.

Kuncinya menjaga kepercayaan dalam diri, seorang trainer beken menyebutnya Belief System.

Anda boleh mengungkapkan alasan kenapa Anda (masih) sakit atau terpuruk, sama bolehnya dengan mengungkapkan keyakinan (bisa) sembuh atau berdaya suatu hari nanti.

Wallahu'alam
Ahmad Sofyan Hadi

Download Free Ebook "Temukan Mentalblock melalui Analisa Tanda Tangan ''


­čĆíKELAS AFIRMASI ONLINE
Dengan visi besar "Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga"


Posting Komentar untuk "SAMPAI KAPAN HARUS PERCAYA?"