Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Ada Niat Ada Cara, Lalu?

Sakalangkong.com - Afirmasi. Kasus seorang ibu yang berniat menyelamatkan anaknya dari kemiskinan dan penderitaan adalah niat yang baik. Tapi caranya dengan membunuh adalah salah besar.

Sama halnya dengan niat menahan hujan agar sebuah acara berjalan lancar tapi caranya dengan memohon kepada selain Allah, Sang Pencipta Hujan, adalah salah besar.

Mirip seorang sopir taksi online meminta seorang pemulung yang lewat memindahkan mobil yang terparkir di pinggir jalan sebuah rumah, pemulung itu tak punya kuasa.

Itu sebabnya kita butuh ilmu agar  niat yang baik beriring dengan cara yang benar. Seperti niat terlepas dari hutang beriringan dengan cara ikhtiar yang benar.

Ilmu ini adalah petunjuk, bisa disebut hidayah. Lalu Sang Pemilik Hidayah adalah Allah SWT, maka penting untuk selalu berinteraksi denganNya agar senantiasa mendapatkan petunjuk.

Jangan sampai seperti cerita ini, ada seorang ibu memiliki hutang Rp 450 juta, lalu tertarik dengan program menggandakan uang secara ghaib. Ia lantas meminjam uang sampai total Rp 25 juta untuk digandakan yang ternyata... menjadi ghaib alias lenyap.

Hutangnya bertambah menjadi Rp 475 juta.

Kesalahan dia bukanlah sejak percaya kepada 'uang ghaib' tapi dimulai ketika memilih tidak mencari ilmu dulu, tidak bertanya kepada orang terdekat atau shalat istikharah meminta petunjukNya.

Sebab, bisa jadi ilmu Allah sudah diturunkan melalui hambaNya yang shaleh. Pun bisa jadi petunjuk itu diturunkan kepada orang yang meminta kepadaNya.

Maka sebelum ikhtiar kerja kerasnya, penting untuk tahu petunjuknya. Agar usaha tidak sia-sia, terlebih tidak menjadi dosa.

Bagaimana agar mendapatkan petunjuk itu?

Pertama berdoa terlebih dahulu, kedua temui dan tanya orang yang berilmu atau yang sudah berpengalaman di bidangnya atau orang shaleh.

Berikut saya contohkan doanya, misal mau mengadakan pesta tapi takut hujan turun.

"Ya Allah, hamba mau mengadakan pesta pernikahan dan mengundang banyak tamu.

Tapi hamba merasa khawatir bila hujan lebat turun sehingga tenda rubuh dan tamu kehujanan.

Ya Allah, hamba tahu hujan adalah salah satu rezekiMu, tapi hamba juga tahu Engkaulah Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Mencintai hamba-hambaMu.

Ya Allah Yang Maha Mengendalikan Alam Raya, hamba memohon kepadaMu untuk keselamatan dan kesehatan semua tamu hamba, hamba memohon kepadaMu wahai Raja yang Agung, untuk melancarkan pesta pernikahan hamba.

Hamba memohon kepadaMu sebab Engkau-lah Raja Segala Raja. Engkaulah Penguasa Alam Raya. Maka kabulkanlah ya Allah, sebab tiada Rabb selain Engkau."

Atau bagi teman-teman yang berhutang.

"Ya Allah, hamba memiliki hutang Rp .... rasanya berat hati ini saat mengingatnya. 

Belum lagi saat ditagih, rasanya malu seperti direndahkan sampai tak punya harga diri.

Tapi hamba akui, hutang ini karena kekeliruan hamba, karena dosa hamba, karena hamba mendzalimi diri sendiri.

Ya Allah, hamba mohon ampun atas dosa-dosa hamba, ampuni ya Allah dan cabutlah ya Allah kesempitan yang hamba rasakan, kesusahan yang hamba alami karena dosa ini.

Hanya Engkau yang bisa mencabut kesempitan dan kesusahan hamba ya Allah, hanya Engkau yang bisa mengampuni dosa hamba. Hanya Engkau yang bisa memuliakan hamba.

Ya Allah, dengan seluruh kuasaMu, dengan seluruh kebesaranMu, dengan seluruh kasih sayangMu, cintai hamba ya Allah, jaga hamba ya Allah, lindungi hamba...

Tak ada kemuliaan saat Kau menghinakan. Tak ada kehinaan saat Kau memuliakan, maka hanya Engkau yang bisa melunasi hutang hamba ya Allah, hanya Engkau yang bisa menjaga kehormatan hamba ya Allah.

Hamba serahkan hutang hamba kepadaMu. Hamba ikhlas dan pasrah kepadaMu."

Bagaimana, merasa lega kan?

Hal terpenting dari niat dan cara adalah kita memiliki teman, keluarga, atau pemimpin yang bisa menunjuki cara yang benar, bukan mengajak pada cara yang salah.

Sebab seperti seorang ibu yang diajak menggandakan uang ghaib agar lunas hutang, yang rugi si ibu sendiri. Si pengajak tak bisa dimintai tanggung jawab kecuali berkilah, "kenapa mau?"

Maka agar selalu benar dalam cara, tidak sekedar baik dalam niat, selalu meminta kepada Allah agar didekatkan dengan keluarga yang shaleh, teman yang shaleh, serta pemimpin yang shaleh.

Atau, jadilah sejak sekarang menjadi sosok itu. Menjadi anggota keluarga yang shaleh, teman yang shaleh, serta pemimpin yang shaleh yang menunjuki kepada cara yang benar. 

Minimal membagikan tulisan ini ke orang terdekat. Agar tidak ada lagi niat baik diikuti cara yang salah di lingkungan kita.

Wallahu'alam.
Ahmad Sofyan Hadi
Penulis Buku Reset Hati Instal Pikiran

Download Free Ebook "Temukan Mentalblock melalui Analisa Tanda Tangan ''

http://guruahmadfauzi.behindsign.com

­čĆíKELAS AFIRMASI ONLINE
Dengan visi besar "Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga"

Posting Komentar untuk "Ada Niat Ada Cara, Lalu? "