Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kenapa Saya Memilih Bahagia?



Saya Memilih Bahagia


t.me/KelasAfirmasiOnline

Ucapan itu keputusan, tak peduli diucapkan dalam hati, ditulis dalam status, atau mengomentari orang lain. Tak peduli ditujukan ke diri sendiri atau ke orang lain. Sekali diucapkan, menjadi keputusan.

Sudah lama saya memilih mengucapkan hal baik, sekedar "pagi ini saya memilih bahagia" sebab ucapan diatas menjadi keputusan yang saya alami kemudian.

Bayangkan seorang gadis yang menerima lamaran seorang pria, menerima adalah keputusan, menjadi penentu nasib di masa depannya.

Demikianlah ilustrasi ucapan, menjadi nasib di kemudian hari sebab ucapan itu adalah perintah ke pikiran untuk memikirkan atau membayangkan hal-hal yang membahagiakan.

Itu bisa berarti menarik hal-hal yang membahagiakan, membagikan kebahagiaan, atau menjadi sumber kebahagiaan. Saya memutuskan semuanya.

Baiklah, mungkin detik ini hingga mundur ke detik lalu dan sebelumnya pernah tidak bahagia, tapi pernyataan "saya memilih bahagia" adalah tembok pembatas agar ketidakbahagiaan itu berhenti di detik saat mengucapkan tadi.

Tak serta merta pengalamannya berubah drastis, ibarat menuang air bening ke gelas berisi air teh, tak serta merta membuat air bening. Tapi terus menerus dinyatakan, terus memenerus dituangkan, bening juga airnya.

Saya memilih bahagia sering saya nyatakan, saya baca. Itu adalah keputusan, menjadi bahagia dan membagikan kebahagiaan.

Wallahu'alam
Ahmad Sofyan Hadi

Posting Komentar untuk "Kenapa Saya Memilih Bahagia? "